FF SiFany | White Snow

sifany_white snow

Title : White Snow

Author : @tikaHyunnie407

Lenght : One Shoot

Cast :

# Siwon

# Tiffany

— annyeong… 🙂 lama tak bersua (?) hehehe.. mian, makin jarang post ff.. huhuhu rasa2nya ini otak udah selalu mentok kalau mau bkin ff -.- tapi kali ini saya hadir (?) dgn ff ‘seadanya’.. SiFany’s fic.. lgi pengin buat SiFany yg sad jadilah ini ff nda jelas.. hehehe ini ff dpt ilham (?) abis denger lagunya Eru ‘White Snow’, trus search mvnya sediih bgt T.T jadi, kalau baca sambil denger lagunya Eru ya, biar dpt feel nya gitu.. heheh —

Happy read^^

♥♥♥ White Snow ♥♥♥

Salju turun membuat hampir seluruh Seoul tertutupi  oleh kristal es yang indah tersebut. Jalanan, taman kota, pohon, bunga, rumah-rumah dan masih banyak lagi yang terlihat sama, tertutupi oleh putihnya salju. Bahkan beberapa kristal es yang telah jatuh ke tanah itu menumpuk, membuat jalanan sulit untuk dilewati karena licin. Tak sedikit orang dimusim seperti ini memilih tinggal dirumah masing-masing dan menghidupkan penghangat yang mereka miliki. Namun tak sedikit juga yang memilih bermain-main dengan kristal es tersebut diluar rumah, menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang terkasih.

“Kau tidak merasa kedinginan?” Siwon melepaskan syal berwarna biru tua yang melingkar dilehernya, lalu mengenakannya pada leher putih sang kekasih. Kini ia dapat melihat dengan jelas wajah gadis yang begitu ia rindukan tersebut. Seminggu tanpa kabar sempat membuat Siwon cemas karena kekasihnya itu tak kunjung menelepon dirinya. Namun rasa cemas itu tergantikan ketika semalam gadisnya menelepon dirinya dan mengatakan ingin bertemu. Dan sejak tadi pagi ia sudah berada diluar rumahnya untuk menunggu gadisnya datang, padahal udara terasa begitu dingin.

Tiffany, gadis itu tersenyum membuat ‘eye smile’ nampak pada sepasang mata indah tersebut. Tidak. Itu jawaban yang diwakilkan oleh senyumnya. Sikap Siwon seperti saat ini mampu membuat udara sedingin apapun menjadi hangat.

“Kalau begini lebih hangatkan?” Tanya Siwon setelah selesai mengenakan syal pada leher Tiffany.

Sekali lagi, tanpa berbicara langsung, Tiffany hanya mengangguk.

“Kau membuatku cemas. Kau tahu itu? Apa semuanya baik-baik saja?” akhirnya apa yang ada dibenak Siwon akhir-akhir ini dapat ia utarakan. Terlihat jelas rasa cemas itu masih ada hingga detik ini.

“Mianhaeyo. Gwenchanayo. Appa melarangku untuk bertemu dengan siapapun.”ujar Tiffany pelan. Setelah itu suasana terasa berbeda. Siapapun? Tidak, gadis itu berbohong. Sang Ayah hanya melarangnya bertemu dengan Siwon, setelah siang itu ayahnya menemukan dirinya bersama dengan Siwon lagi. Bahkan hari ini ia pergi tanpa sepengetahuan sang Ayah.

Siwon terdiam mendengar penjelasan Tiffany. Tak ada yang bisa ia katakan. Ia sadar mungkin sampai kapanpun Ayah Tiffany tak akan membiarkan dirinya berada disamping Tiffany. Siwon juga tahu Tiffany tengah berbohong saat ini.  Sejak awal Ayah Tiffany tak menyetujui hubungan mereka. Siwon berbeda dengan Tiffany. Ia hanya pria biasa yang sehari-harinya bekerja paruh waktu di pompa bensin untuk membantu biaya kuliahnya, sementara Tiffany seperti seorang putri yang hidupnya selalu berkecukupan tanpa kekurangan apapun. Tentu, Ayahnya yang saat ini hanya memiliki Tiffany tak ingin putri kesayangannya hidup denga pria seperti dirinya. Bahkan Ayah Tiffany mengatakan itu secara langsung pada dirinya. Sekeras apapun ia meyakinkan akan membahagiakan Tiffany, tetap tak merubah pendirian pria tua yang juga sangat disayangi kekasihnya tersebut.

“Oppa?” panggil Tiffany karena Siwon terlihat sedang melamun. Membuatnya yakin pria dihadapannya tahu ia tengah berbohong saat ini. Mianhaeyo oppa~

“Eoh?”Siwon terlihat linglung, ia coba menutupi rasa sedihnya tersebut dengan tersenyum setelahnya dan memilih mengganti topic pembicaraan. “Kita mau pergi kemana hari ini?”

Tiffany terlihat berpikir. “Nun seom *snow island*? Aku ingin bermain-main dengan salju. Eotteohkeyo?” *nun seom itu Cuma khayalan saya, heheh*

“Baiklah tuan putri.. heheh” Siwon terkekeh, ia menyetujui usulan gadisnya tersebut. Kemanapun asal Tiffany ada disampingnya semua tempat akan terasa indah. Dan Nun seom memang tempat yang indah juga. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia mengunjungi pulau yang akan menjadi begitu indah disaat musim salju seperti saat ini.

Tiffany tersenyum senang. Ketika Siwon lengah, gadis itu menjinjit dan berhasil mengecup bibir itu. Chu~ Siwon terlihat sedikit shock meski ini bukan untuk pertama kalinya, itu karena ia begitu bahagia. “Kajja!” ajak Tiffany yang menawarkan tangannya untuk digenggam.

Siwon terlihat begitu senang, senyumnya yang manis dengan lesung pipi tersebut lantas terukir diwajahnya. Pria itu mengelus pelan rambut Tiffany sebelum mengenggam tangan mungil tersebut. “Kajja..”

**white snow**

Tiffany terlihat nyaman bersandar pada pundak Siwon saat bus itu perlahan membelah jalanan kota Seoul. Pemandangan salju yang turun menyentuh jendela bus menjadi hal pertama yang ia jumpai ketika mengedarkan pandangannya keluar bus. Tak terlihat jelas diluar karena kaca bus yang mengembun dan salju yang tengah turun menjadi satu-satunya pemandangan yang ia jumpai.

Chu~

Kali ini justru Tiffany yang dibuat terkejut oleh Siwon. Kecupan singkat yang mungkin akan ia rindukan kelak.  Gadis itu mengangkat kepalanya untuk melihat Siwon. Saat itu sebuah senyuman dengan lesung pipi yang teramat manis menyambut dirinya.

Chu~

Sekali lagi dan itu membuat Siwon begitu senang melihat ekspresi terkejut Tiffany. “2-1. Itu berarti aku pemenangnya?” canda Siwon setelahnya.

“Yaa Oppa! Kenapa melakukannya disaat ada banyak orang?” Tanya Tiffany kesal meski jauh didalam hatinya ia begitu bahagia. Wajahnya kini lebih terlihat seperti buah tomat segar yang baru saja dipetik. Ia memukul pelan lengan Siwon, membuat pria itu hanya terkekeh.

“Saranghaeyo~” ujar Siwon membuat Tiffany menatap tepat pada kedua matanya.

Gadis itu tersenyum lalu mengangguk, seakan melupakan rasa malu yang tadi ia rasakan karena tak sedikit mata yang mengarah pada mereka sebelumnya. Tiffany kembali menyandarkan kepalanya pada pundak Siwon dan tak lupa tangannya mengamit lengan kekar itu. “Nado. Saranghaeyo oppa~”

**white snow**

Yeppeo. Satu kata yang langsung terlintas di benak Siwon dan Tiffany ketika melihat pemandangan disekitar mereka. Sisa dari turunnya salju semalam membuat pulau kecil itu benar-benar terlihat indah. Daun-daun pada pepohonan yang dulunya hijau kini seluruhnya tertutupi oleh salju. Siwon dan Tiffany bergandengan tangan melewati jalan setapak yang disekitarnya tumbuh pohon-pohon tersebut.

“Apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Siwon sembari memperhatikan sekeliling. Menjangkau apapun yang bisa ia lihat.

“Hmm..” Tiffany terlihat bingung. Mungkin karena tempat ini terlalu indah sehingga semua yang ia rencanakan seperti menghilang entah kemana. Hanya memperhatikan semua pemandangan dihadapannya terasa lebih indah dari semua hal yang ingin ia lakukan. “Bagaimana kalau kita melihat anak-anak itu bermain lempar salju?” ia menunjuk ke salah satu sudut dimana terlihat beberapa anak tengah bermain dengan salju.

“Eoh?” Siwon terlihat tidak memiliki ide untuk menjawab ajakan Tiffany, sehingga ia hanya mengikuti langkah gadis itu.

*

“Duduklah.” Ajak Siwon setelah ia berhasil membersihkan kursi kayu itu dari salju yang menumpuk diatasnya.

Tiffany yang sejak tadi memperhatikan Siwon membersihkan salju itu dengan kedua tangannya hanya tersenyum dan mengangguk. “Oppa juga duduk.” Ia menepuk-nepuk permukaan kayu yang terasa sedikit lembab tersebut, ingin Siwon juga duduk disampingnya.

“Melihat anak-anak itu membuat aku iri.” Siwon membuka pembicaraan setelah jeda yang cukup lama. Mereka terlalu asik memperhatikan anak-anak tersebut dengan pemikiran masing-masing.

“Waeyo oppa?”

“Lihatlah! Mereka begitu bahagia. Seakan tak ada masalah yang menyelimuti hidup mereka.” Siwon tersenyum meski itu tak menunjukkan isi hatinya yang sebenarnya.

Tiffany menoleh kearah Siwon. Apa selama ini dirinya benar-benar mempersulit Siwon? pikiran itu tiba-tiba terlintas membuat dirinya merasa bersalah. Jika seperti saat ini mungkin hubungan mereka akan terlihat baik-baik saja, tapi ketika mereka dihadapkan dengan pembicaraan yang serius semua terasa sulit. Sangat sulit. Mianhaeyo oppa…

Merasa diperhatikan, Siwon akhirnya menoleh dan menemukan Tiffany yang tengah memandanginya. Pandangan mata gadis itu terlihat kosong. Apa ia mengatakan hal yang salah?

Sesaat Tiffany sadar mata mereka tengah bertaut. Segera ia menarik dirinya dan kembali memperhatikan anak-anak tersebut. “Ne. Aku juga iri pada mereka. Ah oppa, apa oppa ingin minuman hangat? Aku akan membelikannya untukmu.” tanpa menunggu jawaban Siwon, gadis itu beranjak dari kursinya. Tak lupa ia menunjukkan senyumnya yang manis sebelum pergi.

Siwon memperhatikan langkah Tiffany yang mulai menjauh. Entah kenapa ia merasa takut saat gadis itu mulai melangkah pergi. Perlahan, menghilang dari jangkauannya. Aish, jinja paboya! ’Siwon mengedarkan pandangannya ke sudut lain untuk melenyapkan pikiran tersebut. Pikiran macam apa tadi? Dasar bodoh!

**white snow**

Wangi kopi tercium sangat menyengat dihidung Tiffany. Berbarengan dengan itu, suara mesin pembuat kopi berbunyi membuat Tiffany mengarahkan pandangannya kearah mesin itu. Lama ia pandangi mesin itu tanpa sadar sesungguhnya pikirannya jauh dari tempat ini.

drrrtt.. drrtt..

Tiffany tersentak dibuatnya setelah gadis pembuat kopi dihadapannya memberitahukan bahwa ponselnya bergetar sedari tadi. Tiffany hanya tersenyum dan sedikit membungkukkan badan, menyadari ia menganggu pekerjaan gadis itu karena getaran yang dihasilkan ponselnya.

Dirogohnya saku mantel panjangnya dan menemukan benda pintar tersebut. ‘Yunho’, nama itu tertera pada layar ponselnya membuat gadis itu menghela nafasnya.

“Yabohaseyo..” dengan enggan Tiffany menyahut panggilan tersebut.

“Yabohaseyo.. Fany-ah? Eddiseo? Ayahmu sangat cemas  saat tahu kau menghilang dari rumah..”

Tiffany hanya diam saat seseorang diujung sana terus bertanya dan menunjukkan bahwa pria itu begitu khawatir.

“Fanny-ah, kau masih disana? Fany-ah??”

“Oppa, katakan saja pada Ayah. Aku akan menyelesaikan semuanya sesuai dengan keinginan Ayah.” Tiffany mencoba menghirup udara semampunya seakan ia kehabisan oksigen didalam tubuhnya. Mati-matian ia coba menahan air matanya setelah mengatakan hal tersebut.

“Mwo?”

“Aku akan menutup teleponnya. Annyeong.” Tiffany menutupnya terlebih dahulu tanpa membiarkan Yunho berbicara lebih panjang lagi. Yunho adalah seorang kakak yang sudah ia kenal sejak kecil. Keakraban diantara mereka lah yang membuat kedua orang tua mereka salah paham atas persahabatan mereka tersebut.

“Fanny-ah, Ayah melakukan ini demi kebaikan dirimu. Yunho-ssi adalah calon yang terbaik untuk dirimu. Kalau kau tetap pada pendirianmu, maafkan Ayah jika sesuatu yang buruk terjadi padanya. Ayah hanya ingin kau bahagia, karena hanya dirimu satu-satunya yang Ayah miliki saat ini.” Air mata itu hampir saja menetes jika ia mengingat ucapan sang Ayah semalam. Apa yang harus ia lakukan? Haruskan ia memilih diantara dua sosok yang begitu ia cintai? Tidak, ia tidak bisa melakukan itu. Tapi, ada hal lain yang harus ia mengerti jika ia memlih tetap pada pendiriannya bersama Siwon dan menentang keputusan sang Ayah.

“Agasshi, ini pesanan anda.” Gadis tadi, si barista itu memberitahukan kopi hangat pesanannya sudah siap. Membuat Tiffany tersadar.

“Eoh? Ye. Ghamsahamnida.” Sebelum mengambil dua cup kopi hangat tersebut tak lupa ia memasukkan ponselnya kembali kedalam saku.

**white snow**

Tiffany kembali dari membeli kopi hangat. Memegang kedua cup yang terasa hangat tersebut sedikit mengusir rasa dingin disekujur tubuhnya. Saat kembali ia tak menemukan Siwon dikursi dimana sebelumnya mereka duduk bersama. Tentu saja, lihat Siwon sedang asyik bermain lempar salju dengan anak-anak itu.

Tiffany duduk sembari menyeruput kopi hangatnya. Pandangannya tak pernah lepas dari Siwon dan anak-anak tersebut. Ia sempat membalas senyum Siwon, saat pria itu menoleh dan memberikannya sepasang lesung pipi yang manis. Tak lama Siwon berlari kearahnya.

“Anak-anak itu memaksaku untuk ikut bersama mereka bermain lempar salju.” Siwon terkekeh dengan nafas yang seikit terengah-engah.

“Jinja? Pasti menyenangkan.” Ujar Tiffany sembari memberikan kopi yang satunya pada Siwon.

“Hangat.” Kata Siwon setelah ia meminum kopi tersebut.

“Wanginya juga begitu khas, oppa.” Tiffany mencium kembali wangi yang dihasilkan kopi tersebut.

“Benar.” Seperti baru menyadari. Siwon menghirup kembali wangi kopi ditanganya.

“Ayo kita bermain bersama mereka.” Ajak Siwon yang mengenggam tangan Tiffany dan menuntun gadisnya tersebut.

Tiffany yang terkejut terlihat belum siap. Lihat! Kopi itu masih berada ditangan kirinya sementara tangan kanannya sudah berada dalam genggaman Siwon. “Oppa, kopinya.” Ujarnya, membuat Siwon juga sadar masih memegang kopi tersebut. Merekapun hanya tertawa akan tingkah mereka tersebut. Akhinrya bersamaan mereka meletakkan kopi tersebut sebelum bergabung dengan anak-anak itu.

*

Canda tawa terlihat begitu lepas diantara Siwon, Tiffany dan beberapa anak tersebut. Tak perduli seberapa dingin saat bola-bola salju tersebut mengenai sebagian tubuh mereka, keriangan itu tetap tercipta. Bermain salju seperti saat ini seakan membawa Siwon dan Tiffany kembali dimana saat mereka seusia anak-anak itu. Tidak ada masalah yang harus mereka pikirkan dan membuat seakan hidup terasa sulit. Yang ada hanyalah tawa saat berada didekat orang-orang terkasih.

“Oppa, rasakan ini.” Tiffany terlihat puas saat berhasil melemparkan bola salju tersebut tepat kearah Siwon. Namun Siwon berhasil menghalangi salju yang mengenai tubuhnya sendiri dengan tangan kekar itu. Membuat Tiffany hanya memanyunkan bibir pada akhirnya.

Melihat itu Siwon berusaha menahan tawanya lalu menghampiri Tiffany. Tadi ia sempat memperhatikan Tiffany mengusap-usap tangan beberapa kali. “Apa kau merasa kedinginan?” tanya Siwon yang langsung menyentuh telapak tangan Tiffany. Dengan telaten ia mengusap-usap tangan Tiffany dengan kedua tangannya bergantian. Pertama, telapak tangan kanan dan tak lupa telapak tangan kiri setelahnya.

Tiffany kini dapat dengan jelas memperhatikan Siwon. Hangat, itu yang ia rasakan saat kedua tangan Siwon membungkus salah satu telapak tangannya. Pandangannya pun kini beralih pada indra penggerak dimana kehangatan tersebut ia rasakan.

“Hangat, kan?” tanya Siwon menatap tepat pada kedua bola mata Tiffany.

Gadis itu mengangguk. Ditatapnya juga kedua bola mata dihadapannya. Tatapan itu sehangat telapak tangannya.

Siwon tersenyum melihat anggukan Tiffany. Tanpa sadar perlahan ia mulai mendekatkan wajahnya. Seakan mengerti, Tiffany memejamkan matanya. Bagi Siwon, itu seperti ijin untuk dirinya memberi kehangatan lain untuk gadisnya.

Bruuukk..

Anak-anak itu terlihat iseng dengan melemparkan salju kearah mereka. Siwon yang merasakan salju-salju itu mengenai pakaian tebalnya menarik dirinya pada posisi semula. Lalu melihat anak-anak itu sedang tertawa dengan puasnya. Begitupun dengan Tiffany yang sudah membuka kembali kedua matanya dan ikut tertawa kearah anak-anak itu.

“Aish, mereka merusak suasana saja.” Celetuk Siwon sambil terkekeh.

Tiffany dengan wajahnya yang memerah hanya mengangguk seakan meng-iya-kan ucapan Siwon.

**white snow**

Langit mulai gelap ketika waktu mulai berputar ke arah angka 6. Siwon memperhatikan jam tangannya ketika merasakan udara kini mulai terasa lebih dingin. “Kita harus segera kembali ke Seoul.” Ujarnya, yang meski enggan harus ia katakan. Menghabiskan waktu seperti hari ini terasa sangat menyenangkan. Jauh didalam hatinya ia ingin melakukan ini sesering mungkin dengan Tiffany, tapi apa daya jika kelak mungkin itu hanya sebuah mimpi.

Tiffany terdiam. Secepat inikah? Ia melangkah mengikuti jejak langkah Siwon yang terukir disalju tersebut. “Oppa, chakkamaneyo.” Pelan Tiffany membuat Siwon berhenti dan membalikkan tubuhnya.

“Waeyo?” tanya Siwon. Ia memperhatikan wajah Tiffany terlihat gusar, juga tersirat kelelahan disana. Sejak berjalan tadi tak sedikitpun ia mendengar ocehan gadisnya itu. Tiffany memilih diam dalam perjalanan mereka menuju halte bus. Membuat suasana terasa canggung.

Perlahan Tiffany menarik tangannya yang sejak awal di genggam Siwon. Ia mulai mengangkat wajahnya dan menatap Siwon dalam. “Oppa, aku lelah. Ayo kita akhiri semuanya. Aku yakin, kau juga merasa lelah kan?”

Seperti petir yang menyambar disiang bolong, Tiffany mengatakan hal yang selama ini tak ingin Siwon dengar. Bukankah dulu mereka berjanji akan mempertahankannya walau sesulit apapun itu. “Mwo? Fany-ah?” Siwon menyentuh bahu Tiffany, namun gadis itu terlihat acuh.

Tiffany menarik nafasnya dalam. Air matanya sudah menumpuk dipelupuk mata namun berhasil ia tahan, hanya untuk membuat dirinya terlihat lebih kuat. Bodoh! “Kita akhiri semuanya.”gadis itu mengangguk seakan memberikan jawaban bahwa keputusannya adalah benar. “Kelak kita akan sama-sama merasa lelah jika tetap mempertahankannya.”

“Anio!” Siwon menggeleng. Ia tak menyetujui pikiran bodoh seperti itu. “Bukankah aku pernah mengatakan? Tetaplah disampingku. Melewatinya bersama-sama. Suatu hari pasti akan datang hari yang indah.”

“Itu tidak benar oppa.” Ujar Tiffany. Kini pipinya yang mulus dialiri air mata yang sedari tadi ia tahan. Ini rasanya menyakitkan. Namun ia tak memiliki pilihan lain. ‘aku mohon mengertilah, oppa.’

“Apa kau ingin menyerah sekarang?” tanya Siwon lagi. Semakin erat ia mencengkeram bahu Tiffany. Berulang kali ia bertanya kenapa, namun gadis itu tetap diam. Seakan tak ada yang bisa merubah pikiran Tiffany lagi. Siwon menghela nafasnya, mengeluarkan rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi seluruh organ penting ditubuhnya. Saat itu juga cairan bening yang tak pernah ia tunjukkan pada Tiffany mengalir menyusuri lekuk pipinya.

“Mianhaeyo. Aku mohon mengertilah, Siwon-ssi.”

Sekali lagi ucapan Tiffany membuat Siwon tak percaya. Siwon-ssi? Siwon lagi-lagi menghela nafasnya. Belum selesei ia meminta penjelasan karena permintaan perpisahan Tiffany, kini ia sudah mendengar gadis itu memanggilnya seperti itu. Bukankah itu berarti Tiffany memang benar ingin meninggalkannya dan membuat jarak yang begitu jauh diantara mereka. Siwon tersenyum getir dan mulai melepaskan cengkeramannya pada bahu Tiffany.

Menunduk membuat air mata Tiffany mengalir deras sesaat melihat tangan yang selalu hangat mengenggamnya selama ini perlahan terlepas dari bahunya. “Cwesonghaeyo.” Ucapan itu samar-samar terdengar ditengah isak tangisnya.

Kini Siwon yang terlihat diam. Apa yang bisa ia lakukan saat gadis itu yang memilih untuk meninggalkan dirinya? Hanya memandangi langkah Tiffany yang kian terasa jauh dan meninggalkan jejak di salju yang putih tersebut. Siwon terjatuh seperti ia kehilangan keseimbangan pada kedua kakinya. Menangis seperti orang bodoh yang seakan menghitung jejak-jejak tersebut dan membiarkan gadisnya berlalu dan menghilang dari pandangannya.

One snowy day she told me with those lips that she loved me..

Then she told me goodbye and left me..

I counted the footprints she left me in the snow absent minded

And like a fool I cried as I watched her walk away..

—— The End ——

sorry for typo… leave your comment, ne?
be a good readers ^^

annyeong ^o^

Please don’t RE-UPLOAD or COPY-PASTE FF here without my permission

Advertisements

25 thoughts on “FF SiFany | White Snow

  1. yaa..sad ending 😦
    tapi bagus kok 🙂 lumayan buat bacaan ff sifany,nunggu di blog lain malah ga ada yang update

  2. Sad ending begini accck:”(( klo denger pke backsoundnya eru tambah nangis kejer pastiT_T walaupun sebenernya ide ceritanya udah biasa tapi setting tempatnya buat keromantisan sifany disini jadi berbeda apalagi peran siwon yg berbeda 180 drajat dari biasanya. Uh overall ff ini dapet bgt feelnya , so good job buat kak tika^^~ keep writing for sifany ff ur one of my fav sifany author,hwaiting! ❤

  3. hahh.. Sakit bacanya ching.. Feelnya dapet, agak aneh mbyangin siwon bukan anak org kaya soaknya tampang siwon tampang berkelas *apaan* next ff ditunggu! Ayo semangat!

  4. sumpah bagus banget!!!! ga kaya ff laen yg gajenya minta ampun. garing pula.. kalo boleh bkin sekuelnya dong thor.. ya???

  5. Sedih sedih sedih..ayahnya gmn si mkirin kbahagiaan anak tp mlh misahin anaknya dr kbahagiaan..:(
    Yg sbar ne siwon oppa..im new reader..chingu 🙂 slam kenal #kecupas haha 😀 ff mu daebakk aku suka pairing seokyu dan sifany

comment please ^^ be a good reader....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s